Penyesatan Dalam Gereja

Nah untuk artikel saya kali ini, saya ingin share tentang pengalaman saya mengikuti Seminar Rohani Kristen, yang saya ikuti di Hotel Swiss Belhotel Danum, Palangkaraya, tanggal 15 Agustus kemarin. Acara ini tidak sengaja saya ikuti setelah melihat publikasi di jalan-jalan kota Palangkaraya.

“Penyesatan dalam Gereja”, itulah tema seminar yang diangkat. Cukup menarik dan membuat saya penasaran. Ditambah lagi pemberian materi itu dilakukan oleh Bapak Pdt. Erastus Sabdono, pendeta yang dari dulu sering saya dengar khotbahnya di radio-radio, namun baru tadi malam saya melihatnya secara langsung.

Penyampaian dan pemberian contoh-contoh oleh pak pendeta cukup lucu sehingga tidak menmbuat peserta seminar bosan.

Ada pun poin-poin yang saya tangkap dari penjelasan beliau adalah sebagai berikut.

  1. Alkitab perjanjian lama ditulis sebelum masehi, sedangkan perjanjian baru ditulis sekitar 40-90an masehi.
  2. Kata “percaya” saat ini mengalami pergeseran makna di sebagian besar gereja.
  3. Percaya sering disepelekan dan disampaikan secara salah oleh gereja kepada jemaat, inilah yang dinamakan penyesatan.
  4. Banyak orang Kristen salah pengertian bahwa dengan percaya, mereka akan diberkati dengan sendirinya, hidupnya akan enak, tentram, damai sejahtera, kaya raya, sukses, dan lain sebagainya.
  5. Sehingga makna “percaya” dapat dikatakan instan dan orang-orang “percaya” pasti selamat serta dapat hidup yang enak.
  6. Padahal “percaya” tidak sesempit itu.
  7. Pada Kitab Perjanjian Baru, orang-orang percaya banyak mengalami kesengsaraan, yang menguji iman percaya mereka, dan mereka tetap percaya.
  8. Inilah salah satu contoh makna percaya yang sebenarnya, tidak sesempit asal percaya pasti selamat.
  9. Oleh karena itu Paulus mengatakan bahwa “kamu lebih dari sekedar pemenang”, menjelaskan bahwa itu adalah apresiasi Paulus terhadap ketaatan dan kesetian jemaat di Roma pada saat itu, yang walaupun menderita, mendapat ancaman dari kekaisaran Roma, namun mereka tetap mempertahankan kepercayaan mereka terhadap Yesus Kristus.
  10. Apalagi “hanya” dengan “percaya”, hidup kita akan lebih baik.
  11. Tidak bisa hanya dengan seperti itu saja, perlu kerja keras. Karena: penderitaan menimbulkan ketekunan, dari ketekunan menumbuhkan tahan uji, dan dari tahan uji menimbulkan pengharapan akan Tuhan.
  12. Jangan sampai jadi orang Kristen “percaya” instan tanpa kerja keras.
  13. Pdt Erastus Sabdono mengingatkan jemaat agar tidak gampang memaknai “percaya”, dan waspada terhadap ajaran-ajaran ini.
  14. Di samping itu ada hal-hal lain yang disampaikan seperti teladan orang Kristen, tidak usah memandang gereja apa pun karena tetap satu tujuan, dan lain sebagainya.

Demikian poin-poin yang saya tangkap dari penyampaian yang disampaikan beliau kepada ratusan jemaat yang hadir dalam acara seminar rohani ini. Dan tak lupa juga, acara seminar ini merupakan rangkaian acara Musyawarah Daerah Gereja Bethel Indonesia di Kalimantan Tengah.

Pada intinya saya setuju dengan yang disampaikan beliau, bahwa sebagai orang Kristen, kita jangan hanya menginginkan buah langsung, tapi dari benih. Yang artinya kita menjalani proses kita bertumbuh sebagai orang Kristen dengan baik. Bukan dengan cara instan “asal percaya” sehingga semuanya “baik-baik saja”.

Semoga dari tulisan review singkat ini dapat memberikan pelajaran bagi kita semua, dan tentunya bermanfaat. Tuhan memberkati J

About rikoapriadi

Blogger is (soon) a politician, law master, and entrepreneur from Kalimantan. Instagram: riko.nandjan (current active social media). Favorite Life Quote: "Be strong and courageous, because you will lead these people to inherit the land I swore to their ancestors to give them. Be strong and very courageous. Be careful to obey all the law my servant Moses gave you; do not turn from it to the right or to the left, that you may be successful wherever you go." (Joshua 1:6-7). 3 motivations in life: 1. Jesus, as Lord and Savior; 2. Dayak Culture, as nature blood; 3. Family, first environment to grow up. 3 Favorite Concerns: 1. Serving Jesus and People; 2. Learning Law, Social, and Politics (different dimensions but related each other); 3. Sharpening Economic by Developing Business Legally.

Posted on August 16, 2012, in Christian Faith. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: