Peraturan Pembagian Waris Bila Suami (Pewaris) Memiliki Istri Lebih Dari Satu, Menurut KUHPerdata (KUHPer)

Peraturan mengenai waris di dalam KUHPer terdapat di dalam pasal 830 s/d 1130

Istilah dalam kewarisan perdata:

  • Pewaris: adalah orang yang meninggal dunia yang meninggalkan harta kekayaan
  • Ahli waris: adalah anggota keluarga orang yang meninggal dunia menggantikan kedudukan pewaris dalam bidang hukum kekayaan karena meninggalnya pewaris
  • Hukum waris: adalah hukum yang mengatur mengenai apa yang harus terjadi dengan harta kekayaan seseorang yang meninggal dunia, mengatur peralihan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal, serta akibat-akibatnya bagi para ahli waris
  • Harta warisan: adalah kekayaan yang berupa keseluruhan aktiva dan pasiva yang ditinggalkan pewaris dan berpindah kepada ahli waris.

Bila dihubungkan dengan harta kekayaan dalam proses waris, serta dalam hubungan perkawinan dimana seorang suami pada dasarnya boleh memiliki istri lebih dari satu sebagaimana diatur di dalam UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan).

Syarat seorang suami boleh memiliki istri lebih dari seorang:

Pasal 4

(1) Dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan ke Pengadilan di daerah tempat tinggalnya.

(2) Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberi izin kepada suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila:

  1. istri tidak dapat memnjalankan kewajibannya sebagai isteri;
  2. istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;
  3. istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Dan jaminan yang harus dipernuhi seorang suami diatur dalam pasal 5 Ayat 1 Huruf c berbunyi:

“adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka”

Dalam UU Perkawinan, perihal harta benda dalam perkawinan, diatur di dalam pasal 35 dan 36. Masing-masing berbunyi:

Pasal 35

(1) Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama

(2) Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Pasal 36

(1) Mengenai harta bersama, suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.

(2) Mengenai harta bawaan masing-masing, suami isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.

Dari Pasal 35 dan 36 di atas dapat disimpulkan bahwa selama harta diperoleh selama perkawinan, maka hal tersebut menjadi harta bersama suami-istri, namun bila diperoleh sebelum perkawinan maka hal tersebut menjadi harta bawaan masing-masing, sepanjang tidak diatur lain oleh para pihak (suami-istri) misalnya ada perjanjian kawin.

Menurut KUHPer, prinsip dari pewarisan adalah:

  1. Harta Waris baru terbuka (dapat diwariskan kepada pihak lain) apabila terjadinya suatu kematian. (Pasal 830 KUHPerdata);
  2. Adanya hubungan darah di antara pewaris dan ahli waris, kecuali untuk suami atau isteri dari pewaris. (Pasal 832 KUHPerdata), dengan ketentuan mereka masih terikat dalam perkawinan ketika pewaris meninggal dunia. Artinya, kalau mereka sudah bercerai pada saat pewaris meninggal dunia, maka suami/isteri tersebut bukan merupakan ahli waris dari pewaris.

KUHPer telah menetapkan tertib keluarga yang berhak menjadi ahli waris, yaitu suami atau isteri yang ditinggalkan dan keluarga sah atau tidak sah dari pewaris, menurut Undang-Undang ada dua cara untuk mendapatkan warisan, yaitu:

  1. Sebagai ahli waris menurut Undang-Undang (ab intestato)
  2. Karena ditunjuk dalam surat wasiat (testamentair)

Adapun menurut KUHPer, ahli waris dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

  1. Golongan Pertama, yaitu sekalian anak beserta keturunannya dalam garis keturunannya lancang ke bawah. Dalam Pasal 852 Kitab Undang-undang Hukum Perdata disebutkan:“Anak-anak atau sekalian mereka biar dilahirkan dari lain-lain perkawinan sekalipun, mewarisi dari kedua orang tua, kakek, nenek, atau semua keluarga sedarah antara laki-laki ataupun perempuan dan tiada perbedaan berdasarkan kelahiran terlebih dahulu, mereka mewarisi kepala demi mereka. Jika dengan si meninggal mereka bertalian keluarga dalam derajat kesatu dan masing-masing mempunyai hak karena diri sendiri, mereka mewarisi pancang demi pancang. Jika sekalian atau sekedar sebagian mereka bertindak sebagai pengganti”.
  2. Golongan Kedua, yaitu orang tua dan saudara-saudara pewaris pada dasarnya bagi orang tua disamakan dengan saudara-saudara pewaris tetapi ada jaminan dimana bagian orang tua tidak boleh kurang dari 1/4 (seperempat) harta peninggalan.
  3. Golongan Ketiga, sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 853 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yaitu: “Apabila si meninggal tidak meningglakan keturunan maupun suami-isteri, maupun saudara-saudara, maka dengan tidak mengurangi ketentuan dalam Pasal 859 warisannya harus dibagi dalam bagian yang sama, ialah satu untuk bagian sekalian keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus ke atas dan bagian untuk sekalian keluarga yang sama dalam garis seibu. Waris yang terdekat derajat dalam garis lurus ke atas, mendapat setengah dari bagian dalam garis, dengan mengesampingkan segala waris lainnya, semua keluarga dalam garis lurus ke atas dalam derajat yang sama mendapat bagian mereka kepala demi kepala.”

Sedangkan dalam Pasal 854 Kitab Undang-undang Hukum Perdata disebutkan, yaitu: “Apabila seseorang meninggal dunia dengan tidak meninggalkan keturunan maupun suami-isteri, sedang bapak ibunya masih hidup, maka dari mereka mendapatkan sepertiga dari warisan jika si meninggal hanya meninggalkan seorang saudara laki-laki ataupun perempuan yang mana mendapatkan sepertiga, selebihnya si bapak dan si ibu masing-masing mendapatkan seperempat, jika si meninggalkan lebih dari seorang saudara laki-laki ataupun perempuan, dua perempat bagian selebihnya menjadi bagian saudara-saudara laki-laki ataupun perempuan”.

  1. Golongan Keempat meliputi anggota keluarga dalam garis ke sampaing dan sanak keluarga lainnya sampai derajat keenam.

Kesimpulan:

Dari penggolongan ahli waris berdasarkan KUHPer di atas, dan berlakunya UU Perkawinan, dapat disimpulkan bahwa istri, baik istri pertama, kedua, dan seterusnya, merupakan ahli waris golongan pertama. Dan cara pembagian harta warisnya dilakukan secara merata. Misalnya ahli waris ada 2 orang istri, serta 5 orang anak, maka pembagiannya secara seimbang 1/7 (sepertujuh) dengan catatan karena berlakunya UU Perkawinan, maka pembagian harta bersama disesuaikan dengan waktu kapan perolehan harta yang diwarisi tersebut (istri pertama, anak-anak istri pertama, istri kedua, anak-anak istri kedua), pembagian harta bawaan suami (pewaris) dibagi secara merata tanpa memperhatikan kapan waktu kawinnya.

About rikoapriadi

Blogger is (soon) a politician, law master, and entrepreneur from Kalimantan. Instagram: riko.nandjan (current active social media). Favorite Life Quote: "Be strong and courageous, because you will lead these people to inherit the land I swore to their ancestors to give them. Be strong and very courageous. Be careful to obey all the law my servant Moses gave you; do not turn from it to the right or to the left, that you may be successful wherever you go." (Joshua 1:6-7). 3 motivations in life: 1. Jesus, as Lord and Savior; 2. Dayak Culture, as nature blood; 3. Family, first environment to grow up. 3 Favorite Concerns: 1. Serving Jesus and People; 2. Learning Law, Social, and Politics (different dimensions but related each other); 3. Sharpening Economic by Developing Business Legally.

Posted on May 8, 2015, in Law. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Dear bang Riko,kl blh tau,tahun berapa UU tsb mulai berlaku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: